Jumat, 23 Desember 2016

Cinta


Bila melihatmu, kekasihku
Malam bulan ini tak seperti bulan lalu
Bintang yang tersenyum padaku bulan lalu
Bulan ini bintang itu meredup, kadang tak tampak

Kuceritakan padamu, kekasihku
Aku sudah menceritakan ini pada jiwa-jiwa yang tak tau bahasa hati
Aku lelah
Menghambur-hamburkan suara pada udara yang bahkan tak sudi menangkapnya

Dengarkan ceritaku,kekasihku
Setiap pagi dalam bulan ini
Sarapanku tiada lain apakah bintang itu benar-benar tak lagi menyinariku
Aku dipenuhi kengerian
Oleh lebah yang selalu berdengung di kepalaku sambil berteriak ya,ya,ya atas pertanyaanku

Aku berjalan sempoyongan dengan bibir pemalu yang tak mampu mengucapkan kata “aku cinta kamu”
Aku telah dipenuhi malam
Aku terus berjalan menengadah tanpa tau manusia yang mencoba memegangiku

Dendam


Sang aku menaruh luka sejak 12 tahun lalu

Sang aku membiarkan pintu terbuka sehingga luka-luka itu masuk dan mengendalikanku



Tak apa,

Tali-tali telah terjalin dan terputus begitu saja

Tak ada yang peduli bahwa waktuku terhenti ketika tali-tali itu putus

Dicambukkan ke jiwaku, berkali-kali

Mengundang luka yang bahkan tak mau beranjak pergi dari punggungku



Hahahahahahah

Bedebah

Gagak itu sedari tadi bernyanyi dengan suaranya yang jelek

Mencemooh sang aku yang diperdaya luka

“Kamu pendosa!” teriaknya sambil tertawa



Sang aku telanjang, tapi tidak mati

Sang aku telah memenuhi persembahannya kepada luka

Sambil masih mengagumi tubuh lanang, rebah di sampingnya, bersemu merah

Sang aku beradu pandang dengan gagak

Lanang telah kehilangan hati

Ia telah mati

Luka telah bersemayam dan mengucapkan sabdanya

Sang aku bercinta dengan gagak

Sambil berpikir bahwa kebenaran masih belum ditemuinya

Saat ia mengayunkan pisaunya tepat menuju jantung laki-laki itu

Hampa

Luka yang mengikutinya selama 12 tahun tak juga pergi

Keperawanannya terbawa mati